7.27.2014

Penelitian Mengungkap Sejarah Perdagangan di Reruntuhan Pompeii

Pompeii adalah sebuah kota zaman Romawi kuno yang telah menjadi puing dekat kota Napoli dan saat ini berada di wilayah Campania, Italia. Pompeii hancur oleh letusan gunung Vesuvius pada 79 M. Kota ini berdiri di lokasi yang terbentuk dari aliran lava ke arah utara di hilir Sungai Sarno (zaman dulu bernama "Sarnus"). Saat ini daratan ini agak jauh letaknya di daratan, namun dahulu merupakan daerah yang dekat dengan pantai. Pada abad pertama Masehi, Pompeii hanyalah salah satu dari sekian kota yang berlokasi di sekitar kaki Gunung Vesuvius. Wilayah ini cukup besar jumlah penduduknya yang menjadi makmur karena daerah pertaniannya subur. Beberapa kelompok kota kecil di sekitar Pompeii seperti Herculaneum juga menderita kerusakan atau kehancuran oleh tragedi letusan Vesuvius.
Penelitian Mengungkap Sejarah Perdagangan di Reruntuhan Pompeii
By Jensens (Karya sendiri) [Public domain], via Wikimedia Commons
Berdasarkan hasil penemuan di situs penggalian kota Pompeii mengungkapkan persepsi bagaimana cara makan kelas menengah dan bawah bangsa Romawi berupa sup dan bubur, kemudian adanya perdagangan besar buah-buahan, daging dan rempah-rempah impor yang diperoleh dari Indonesia. Hasil temuan ini dipublikasikan secara resmi oleh tim arkeolog University of Cincinnati pada tanggal 4 Januari 2014 dalam pertemuan gabungan yang diadakan setiap tahun oleh Archaeological Institute of America (AIA) dan Amerika Philological Association (APA) di Chicago. UC tim arkeolog telah menghabiskan lebih dari satu dekade di dua blok kota dalam kabupaten non-elit di kota Romawi Pompeii, yang terkubur di bawah gunung berapi di 79 Masehi. 

Penggalian yang mengungkap penggunaan sebelumnya bangunan yang akan tanggal kembali ke abad ke-6. Pompeii, Herculaneum dan beberapa villa disekitarnya sebagian besar hancur dan terkubur tanah dengan kedalaman 4 hingga 6 meter akibat letusan gunung Vesuvius yang terjadi tahun 79 Masehi. Kota ini diperkirakan berdiri sejak abad ke-7 SM dan jatuh ketangan Romawi pada tahun 80 SM. Pada saat letusan terjadi kemungkinan Pompeii berpenduduk 20 ribu jiwa, dimana kota tersebut memiliki sistem pengairan kompleks dan pelabuhan besar. Diperkirakan bukti kehancuran kota Pompeii awalnya berasal dari sebuah surat Plinius yang menyatakan dirinya melihat letusan dari kejauhan dan menggambarkan kematian pamannya (Pliny), seorang laksamana armada Romawi yang mencoba menyelamatkan warga. Situs ini telah hilang selama kurang lebih 1500 tahun dan ditemukan kembali pada tahun 1599 dan diperluas kembali pada tahun 1748. Pompeii saat ini telah menjadi tujuan wisata selama lebih dari 250 tahun dibawah perlindungan UNESCO. 

Menurut salah satu tim arkeolog University of Cincinnati, Steven Ellis, penggalian situs menghasilkan analisis arkeologi terkait hunian lengkap dimana situs itu juga menyimpan pusat bisnis yang terletak di salah satu gerbang tersibuk di Pompeii, Porta Stabia. Adapun tujuan utama penggalian situs kota Pompeii untuk mengetahui kaitan struktural dan sosial dari waktu ke waktu antara penduduk, kaum pekerja, serat peran kalangan elit, dalam membentuk kota perdagangan yang besar serta peran terhadap perkembangan sejarah, politik dan ekonomi di kawasan Mediterania. Salah satu data penting dari penggalian situs arkeologi ini adalah pemahaman tentang diet dan struktur konsumsi makanan penduduk kota. Pendanaan untuk penelitian ini didukung oleh UC Departemen Klasik Louise Taft Semple Fund, dengan dukungan tambahan yang murah hati dari National Endowment for the Humanities, National Geographic Society, Loeb Classical Library Foundation dan beberapa dermawan swasta. 

Wilayah situs ini mencakup 10 bidang bangunan terpisah dan memiliki 20 bangunan toko yang sebagian besar menjual makanan dan minuman. Salah satu diantara bukti yang diperiksa merupakan limbah yang diperoleh dari saluran air dan 10 kakus. Limbah makanan yang ditemukan berupa makanan mineral berasal dari dapur dan kotoran manusia, salah satunya adalah sisa makanan terutama biji-bijian. Berdasarkan materi yang dianalisis dari saluran air pembuangan mengungkapkan berbagai kuantitas bahan yang sangat jelas membedakan sosial dan ekonomi antara kegiatan dan kebiasaan konsumsi masing-masing properti, termasuk diantaranya limbah dari penginapan. Adapun temuan limbah makanan mengungkapkan jenis konsumsi murah dan elit seperti buah-buahan, kacang, zaitun, ikan lokal dan telur ayam, serta potongan daging yang harganya jauh lebih mahal. 


Selain itu, limbah kotoran yang ditemukan dari saluran air tetangga juga mengungkapkan adanya perbedaan taraf sosial ekonomi antara tetangga. Saluran dari properti pusat diidentifikasi mengandung berbagai makanan kelas atas yang mungkin diperoleh secara impor dari luar Italia, salah satunya kerang, landak laut hingga kaki jerapah. Tulang kaki jerapah dianggap sebagai makanan eksotis dan ditegaskan bahwa fakta ini dianggap sebagai satu-satunya bukti yang pernah tercatat di penggalian arkeologi Romawi di Italia. Berbagai makanan saji yang disediakan oleh restoran di kota Pompeii tidak hanya menggambarkan adanya perdagangan dari wilayah jauh, tetapi juga menggambarkan kekayaan dan makanan diet kaum non elit. Salah satu bukti adanya perdagangan dari negara lain yaitu impor rempah-rempah yang hanya bisa diperoleh dari wilayah Indonesia. 

Sumbernya

No comments:

Post a Comment