6.23.2014

5 Situs Sejarah Dunia yang Terabaikan

Sejak ribuan tahun yang lalu, manusia telah meninggalkan catatan atau setidaknya bukti sejarah yang ditujukan sebagai pengingat untuk anak cucu mereka di zaman mendatang. Sebagai contohnya adalah tugu, prasasti, artefak dan candi. Ya, manusia adalah makhluk yang tidak pernah melupakan sejarahnya. Akan tetapi di dunia ini ada banyak pula situs sejarah yang tak dapat ditelusuri riwayatnya. Perubahan budaya yang berlangsung selama ribuan tahun menjadikan bahasa dan aksara yang digunakan nenek moyang dalam situs-situs penting itu tidak dapat dikenali lagi oleh masyarakat zaman modern. 
5 Situs Sejarah Dunia yang Terabaikan
5 Situs Sejarah Dunia yang Terabaikan
Karenanya situs-situs itu senantiasa diliputi tanda tanya sejak penemuannya kembali. Bahkan beberapa diantaranya mulai terlupakan keberadaannya dengan menyisakan misteri yang belum terpecahkan. Situs sejarah misterius apa sajakah yang dimaksud? Berikut ini ada lima situs sejarah dunia yang nyaris terabaikan. Mari kita simak bersama-sama!

1. Baalbek, Lebanon
BaalbekGreatCourt
By Heretiq (Karya sendiri) [CC-BY-SA-2.5], via Wikimedia Commons
Kota yang terletak di Lembah Bekaa, Lebanon pada ketinggian 1.170 meter di sebelah timur Sungai Litani. Baalbek terkenal karena reruntuhan kuil Romawi di wilayah ini. Kuil Baalbek merupakan situs sejarah penting zaman Romawi kuno yang berada di Lebanon. Bagian menakjubkan dari reruntuhan ini adalah ukuran batu-batu yang digunakan di sana yang tercatat sebagai bongkahan batu terbesar yang pernah dipakai untuk membuat struktur banguan dalam sejarah. Masing-masing beratnya mencapai 1.200 ton dan berasal dari zaman yang berbeda. Pra arsitek dan insinyur yang meneliti situs ini mengklaim bahwa manusia tidak pernah mengenal teknologi yang memungkinkan untuk mengangkat dan menyusun batu-batu tersebut dalam posisi sedemikian rupa. 

Misteri kuil-kuil Baalbeck terletak pada kemegahan dan kemampuannya bertahan melewati banyak peradaban dan penyembahan terhadap banyak dewa selama ribuan tahun. Beberapa dari monumen memang telah diubah, namun sepertinya tidak bisa atau tidak pernah dihancurkan, karena keagungan dan keindahannya. Pada kenyataannya, ukuran super besar dari kuil-kuil tersebut membuat takjub dan memancing rasa keingintahuan setiap orang yang berkunjung. Sementara bagi arkeolog dari seluruh dunia, mereka bertanya bagaimana mungkin bangunan megah dan luar biasa seperti itu bisa dibangun ribuan tahun lampau.

Pada masanya, Baalbeck merupakan komunitas orang-orang Phoenix yang kemudian setelah melewati masa-masa penaklukan berubah menjadi komunitas Yunani, Roma, Byzantine, dan kemudian Arab. Saat bangsa Yunani menguasai Baalbeck pada 331 SM, mereka mengubah nama kota itu menjadi Heliopolis atau Kota Matahari. Kota yang dilewati rute-rute perdagangan utama di Heliopolis berkembang pesat menjadi pusat perdagangan dan keagamaan besar.

2. Kota kuno Nan Madol, Federasi Mikronesia
Nan Madol 5
By CT Snow from Hsinchu, Taiwan (Nan Madol ruins in Pohnpei) [CC-BY-2.0], via Wikimedia Commons
Sebuah reruntuhan kota yang terletak di sebelah timur pulau Pohnpei. Nan Madol sebelumnya merupakan ibukota Dinasti Saudeleur hingga pada tahun 1628. Saat ini, reruntuhan Nan Madol terletak di distrik Madolenihmw, Federasi Mikronesia. Walaupun hanya berupa reruntuhan, bekas kota kuno yang masuk ke wilayah negara kepulauan Federasi Mikronesia ini masih menampilkan kemegahan dan bukti kemajuan seni arsitektur prasejarah yang sangat maju pada masanya. 

Kota ini dibangun pada abad 8 atau 9 Masehi di atas sebuah laguna, di atas bebatuan karang yang terletak di tepi laut. Keseluruhan wilayah Nan Madol terdiri atas serangkaian pulau buatan yang terhubung oleh jaringan kanal. Nan Madol adalah satu-satunya kota kuno yang pernah dibangun di atas karang. Dari situ saja sudah menunjukkan keahlian para perancangnya. Selain itu reruntuhan kuno ini terdiri dari struktur-struktur bangunan yang rumit, layaknya kota di zaman modern. Nan Madol dikelilingi tembok raksasa yang diperkirakan tersusun dari 250 juta batu. Struktur bangunan di sana pun dibangun dari batu-batu monolit seberat 5 sampai 50 ton yang kemungkinan besar didatangkan dari pulau-pulau di sekitarnya. 

Tapi yang menjadi pertanyaan, bagaimana caranya menyusun batu-batuan raksasa tersebut di tengah daratan buatan yang berlokasi di tengah laut? Para arkeolog mencoba merekonstruksi pembangunan bangunan-bangunan batu tersebut dengan berbagai metode pengangkutan, tetapi semuanya gagal. Setiap metode yang dicoba hanya mampu memindahkan batu dengan berat tak lebih dari beberapa ton saja. Tentu saja ini tak bisa menjelaskan struktur-struktur yang terbuat dari batu utuh seberat puluhan ton.

3. Pumapunku dan Tiwanaku, Bolivia
Puma Punku pile of rocks
By Janikorpi (Karya sendiri) [CC-BY-SA-3.0], via Wikimedia Commons
Puma Punku merupakan satu dari empat struktur di kota Pra-Inca kuno Tiwanaku, Amerika Selatan. Usia reruntuhan megalitik menjadi bahan perdebatan para arkeolog. Selama beberapa dekade situs ini telah mengalami penggalian dan penjarahan sehingga keasliannya dan kelestariannya sudah sangat meragukan. Sejumlah arkeolog percaya kalau reruntuhan dua kota ini lebih tua dari piramida Mesir, dengan perkiraan usia mencapai 15 ribu tahun.

Tiahuanacao sendiri (juga dikenal sebagai Tiwanaku) adalah sebuah misteri, dikarenakan keagungan struktur megalithicnya, lokasinya, dan alasan kota ini dibuat di tempat yang terisolir. Tihuanaco juga diyakini merupakan pusat acara keagamaan, dan pusat perkembangan kebudayaan di daerah itu. Di sini dulu juga pernah berdiri tegak sebuah piramida batu, yang disebut Akapana. Ketika pertama kali ditemukan, piramida ini tertimbun pasir. Setelah diekskavasi dalam beberapa dekade akhirnya dinding dari piramida tersebut sudah mulai terlihat.

Pada batu-batu besar yang digunakan dalam konstruksi ini tidak ditemukan adanya tanda-tanda pahatan, melainkan ditemukan bekas potongan yang sangat rapi dan halus, sehingga menimbulkan keyakinan kalau para pendirinya memiliki pengetahuan yang tinggi dalam bidang arsitektur dan geometri. Kota ini juga memiliki sistem irigasi modern, garis limbah tahan air dan mekanisme hidrolik. Tetapi karena tidak adanya catatan sejarah apapun mengenai para penduduk Pumapunku dan Tiwanaku, teknologi penduduk dari zaman peradaban ini jadi tak bisa ditelusuri.

4. Kota kuno Mohenjo Daro dan Harappa, India
Mohenjo-daro
By Saqib Qayyum (Karya sendiri) [CC-BY-SA-3.0], via Wikimedia Commons
Mohenjo Daro dan Harappa adalah puing-puing kota kuno yang ditemukan lembah sungai Indus. Situs kota kuno ini diperkirakan berasal dari tahun 500 SM. Reruntuhan kota kuno ini mengundang decak kagum juga tanda tanya bagi para peneliti sejarah. Reruntuhan bangunan di kota ini menunjukkan sebuah bukti atas tingginya ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh bangsa Dravida yang membangun dan menghuni pemukiman di sana.

Kota tersebut dibangun dengan seni arsitektur yang rumit dan teknologi yang rumit. Terdapat berbagai fasilitas umum yang seharusnya belum ada dalam zaman setua itu seperti sistem sanitasi yang terencana, irigasi, sistem pengaturan air seperti yang biasa dijumpai di kota-kota kanal modern dan berbagai peralatan bernilai seni tinggi. Bahkan kerumitan struktur bangunan di Piramida Mesir dan kota kuno peradaban Mesopotamia pun tak bisa menandingi kompleksitas bangunan di Mohenjo Daro dan Harappa.

Orang-orang Dravida yang diperkirakan merupakan pendiri kota kuno ini sendiri menjadi tanda tanya bagi para arkeolog. Riwayat mereka tak dapat ditelusuri hingga saat ini. Bahasa dan aksara yang mereka gunakan dalam artefak-artefak yang ditemukan di sana masih belum dapat dipecahkan hingga saat ini. Uniknya di kota tersebut tidak ditemukan bangunan untuk kegiatan religius dan tanda-tanda sistem kasta. Hal ini mengakibatkan para peneliti berspekulasi kalau masyarakat Mohenjo Daro dan Harappa merupakan peradaban yang hidup bergantung sepenuhnya pada ilmu pengetahuan (sudah meninggalkan praktek keagamaan) dan memiliki filosofi hidup yang tinggi (terlihat dari ketiadaan sistem kasta dalam hierarki sosial).


5. Troy, Turki
Walls of Troy (2)
CherryX per Wikimedia Commons [CC-BY-SA-3.0], via Wikimedia Commons
Troy, Troia,Truva, atau Troya adalah sebuah kota terkenal baik sejarah dan legenda (serta arkeologi), dan terletak di barat laut Anatolia di tempat yang saat ini dikenal sebagai Turki, di selatan ujung barat daya dari Dardanella / Hellespont dan barat laut dari Mount Ida. Troya adalah sebuah kota legendaris dan pusat dari Perang Troya seperti yang diceritakan di dalam Kumpulan Cerita-cerita Kepahlawanan Yunani terutama di dalam Iliad, salah satu dari dua puisi kepahlawanan Homer, seorang seniman Yunani Kuno. Kota dan peradaban ini pernah dianggap sebagai mitos dan khayalan semata, sama persis dengan kisah-kisah tentang peradaban Atlantis dan Lemuria.

Tapi anggapan tersebut akhirnya tumbang, bermula setelah seorang cendekiawan Inggris, Charles McClaren, pada tahun 1822 berpendapat bahwa Troy yang dimaksud Homer kemungkinan besar berada di Turki. Dia menunjuk sebuah gundukan tanah luas yang disebut Hisarlik dekat Dardanella, yaitu sebuah kawasan di laut sempit yang menghubungkan Laut hitam dan Aegea. Setelah itu seorang arkeolog Jerman, Heinrich Schiliemann, mulai mengadakan penggalian terhadap gundukan di Hisarlik pada tahun 1871. Baru pada 1873, Schliemann berhasil menemukan sisa-sisa sebuah kota yang sangat kuno yang ia percayai sebagai reruntuhan peradaban Troy. Selain itu, ia bersama para krunya juga menemukan harta karun emas dan perak yang ia sebut sebagai harta karun Priam, sesuai dengan legenda Raja Troy yaitu Priam yang disebutkan dalam epik karangan Homer, Iliad.

No comments:

Post a Comment